kucing dan anjing



Aku dan anjing.
Anjing bukanlah binatang favoritku. Banyak pengalaman kurang menyenangkan bersama anjing di masa kecilku. Saat kelas 3 di sekolah dasar, aku pulang sekolah bersepeda diiringi oleh segerombolan anjing. Lebih tepatnya dikejar. Mengerikan sekali. Di lain hari, adikku digigit bokongnya, ketika sedang mengambil batu untuk dilempar ke anjing itu. Skor 0-2. Masih ada lagi. Saat membantu Mami membagikan undangan arisan, bukan tuan ruman yang keluar, malah si dogi yang menyambutku. Huftt….
Bukan hanya itu. Secara fisik, anjing bukanlah binatang kecil yang rapuh. Mereka binatang yang cukup besar (bahkan seekor pudel pun), dengan karakter yang sangat ekspresif. Entah itu dari wajahnya, ekornya, dan yang paling dahsyat buatku adalah gonggongannya.
Sahabatku, Mariam, seorang penyayang anjing. Bermain di rumahnya selalu menjadi agenda yang menegangkan. Anjingnya berwarna coklat -itulah sebabnya bernama Bron. Sepertinya bulunya halus, Jangan tanya saya, karena jangankan mendekat, mendengar suaranya saja, aku sudah merinding.  Menurut  Mariam sih, anjingnya tampan. Aku sendiri, sampai sekarang belum bisa menemukan dari segi mana ketampanan itu datang.
Mariam selalu menertawai aku setiap aku ketakutan bertemu Bron.  Dia selalu bilang, “Sari, Bron itu senang bertemu denganmu. Lihat ekornya mengibas-ibas. Itu tandanya dia senang, dan mau mengajakmu bermain.” What??!! Semakin keras kibasan ekornya, semakin nyaring gonggongannya, semakin takutlah aku. “Senang apanya, Mar? Dia menggonggong begitu?”protesku. Semakin nyaringlah tawa Mariam, “Anjing itu cara berkomunikasinya cuma dengan menggonggong, Sar.” Benar juga sih, pikirku. Tapi… that doesn’t make me feel calm, because he started to come closer to me. “Marrrr…. tolonggggggggg!!!”

Mariam dan kucing.
Berbeda dengan aku, Mariam takut sekali pada kucing. Aku masih heran, kenapa ada orang yang takut kucing. Seekor binatang yang tampak rapuh, manja, manis, dan sama sekali tidak berbahaya…
Aku dan Mariam sedang makan di kantin kampus. Hari masih pagi, kantin pun masih sepi. Beberapa malah belum mulai berjualan. Kami memilih tempat duduk di tengah kantin. Sambil menunggu pesanan kami datang, aku membuka buku diktatku. Tiba-tiba Mariam panik. “Sar… Sar… tolong Sar…” Aku menoleh.  Kulihat kucing itu. “Kenapa Mar?” tanyaku dengan tenang. “Sar, tolong usir kucingnya… “ pintanya memelas. “Kucingnya gapapa kok. Dia cuman duduk aja. Masak diusir? Kasian…” Mariam mulai merengek, “Tapi dia ngeliatin aku. Aku takut dicakar, Sar”. Aku mulai menertawainya. “Mar, kalau seekor kucing ngeliatin kamu, artinya cuma dua hal. Dia minta makan, atau  minta dielus, disayang. Dia ga mungkin mencakar, kecuali kamu ganggu dia. Tenang aja.”
“Kamu sih bisa suruh aku tenang. Tapi aku ga bisa tenang, Sar. Aku merasa dia menatapku tajam, menuntut sesuatu. Kalau dia marah bagaimana? Kalau dia mencakar?” Mariam mulai paranoid. Aku tertawa terbahak-bahak. Lucu ya Mar, masing-masing kita punya satu ketakutan yang dianggap tidak penting bagi lainnya. Itulah yang namanya beda perspektif :D

Komentar

Postingan Populer