Ini tanah Kalimantan, Bung!

Perjalanan kali ini bisa disebut napak tilas. Menyusuri masa lalu. Menelusuri kembali kepingan kenangan yang masih terselip di sela-sela kepalaku.

28 tahun kemudian.


Rasanya tidak pernah terbayang akan kembali lagi ke sini. Kemarin akhirnya memutuskan ke sini karena... well, some things should be repeated, and this is one of those. Berdekatan dengan momen Cap Go Meh, lalu semua peserta bisa turut serta, kuy lah kita berangkat, dan mari habiskan jatah cuti.



Kujejakkan lagi kakiku di sini. Hampir 3 dekade. Tentu sudah banyak yang berubah. Dahulu, bandara Supadio sangat kecil, bangunannya hanya satu shaf (literally! LOL). Bahkan dulu kami dengan mudahnya bebas menonton pesawat hendak terbang dari tempat parkir. Seolah-olah sebuah pertunjukan gratis tanpa pengamanan, yang mengasikkan di mata beliaku dulu. Lalu berakting melambaikan tangan perpisahan setiap ada pesawat yang lepas landas. Hiburan tipis-tipis.

Kami berjalan menuju tempat pengambilan bagasi. Kini bandara Supadio sudah jauh berbeda. Luas dan modern, seperti halnya bandara lain di pulau Jawa. Lalu aku tertegun kemudian tertawa ngakak membacanya. Rasanya seperti terlempar kembali ke masa lalu. Selamat datang di tanah Kalimantan, Bung!



Bahasa melayu di Pontianak sekilas terdengar seperti bahasa si Upin Ipin dkk. Nada dan intonasinya hampir sama, sedikit berbeda saja di pilihan katanya. Tapi kalau ditanya sekarang, aku sudah lupa semuanya. Ketika mendengar orang-orang ini berbicara dengan dialek sana, terdengar aneh namun tidak asing. Aku jadi membayangkan mungkin aku terdengar seperti ini ketika pindah ke Jawa dulu 😁

[Pontianak Series #2]

Komentar

Postingan Populer