Drama Monopoli


Masih ingat monopoli?
Salah satu papan permainan yang melegenda. Siapa yang tidak mengenalnya? Typo : bagi anak generasi 90-an tentunya ya..

Entah dari mana ide bermain monopoli kemarin persisnya datang. Tetiba keinginan bermain monopoli tidak dapat ditunda lagi. 

Pertanyaan pertama, beli dimana ya?
Pertanyaan kedua, masih ada yang jual gak ya?

Mungkin susunan pertanyaannya terbalik ya. Entahlah :)

Yang terlintas pertama adalah, beli di toko buku. Dan ternyata beneran ada lho.

Dan murah banget men, cuma 18 ribu rupiah, Lengkap sepaket dengan halma, ludo, ular tangga, dan catur, bolak balik.

Aku rasa ini adalah sebuah cara untuk bertahan hidup, di antara aneka permainan di ponsel pintar, yang terasa gratis dan jaraknya sejauh satu-dua klik saja. 


Kebetulan yang kami beli adalah monopoli internasional (tidak ada pilihan lain). Maksudnya internasional, berisi negara-negara di dunia, termasuk Jakarta. Dan Jakarta yang jadi kota termahal. Dimaafin deh kalau begitu *hehe*

Besok sorenya, kami berempat sudah berkumpul untuk bermain. Ngabuburit, bahasa kerennya. Tentu saja Nino masuk dalam pasukan ini, karena kakakku ingin memperkenalkan mainan jadul ini ke anaknya, ingin tahu bagaimana tanggapan kids jaman now. 

Tantangan pertama, bagaimana cara mainnya. Serius, sudah lupa *sigh* 

Secara garis besar sih paham, tapi bagaimana memulainya, peraturannya apa saja, harus nyontek dulu di bagian belakang kotak. Aturan Permainan Monopoli. Terlalu kecil ya, tidak terbaca. Tapi Aturan ini sangat informatif. Permainan bisa langsung dimulai.



Dan ternyata sodara-sodara, bermain monopoli memang sungguh menyenangkan. Semenyenangkan yang bisa ku ingat :) Kalau buat aku, mungkin ada faktor nostalgianya ya. Bermain ramai-ramai, berkumpul bersama keluarga dalam suasana yang santai. Yang menang godain yang kalah. Suasananya akrab dan ngangenin..

Buat Nino, ternyata dia sangat-sangat bersemangat. Pertama, karena ini adalah papan permainan pertama yang dia mainkan, jadi ada rasa penasaran sekaligus keingintahuan.

Kedua, mungkin ini menjadi satu-satunya pengalaman bermain bersama orang dewasa, dalam satu waktu yang sama. Berbeda dengan permainan yang modern (baca : permainan di televisi, komputer, maupun ponsel pintar), meski bermain bersebelahan -sebagai pemain pertama dan kedua- namun sejatinya mereka bermain sendiri-sendiri, tidak ada interaksi langsung dengan teman sebelahnya, interaksinya ya di layar.

Ketiga, Nino belajar untuk kalah. Dia sempat kesal ketika uangnya habis dan tidak bisa membeli rumah seperti peserta yang lain. Berbeda dengan permainan modern, ketika kalah, kita bisa mengulang level itu sampai berhasil lolos ke level berikutnya, atau tutup saja aplikasinya *hahaha*

Di monopoli, ketika uangmu habis, kamu harus memutar otak bagaimana caranya memperoleh suntikan dana. Tidak bisa diulang, karena permainan terus berjalan. Jadi benar-benar perlu dipikirkan strateginya. Nino bisa belajar itu dari bermain monopoli. Belajar bahwa hidup itu banyak pilihan dengan risikonya masing-masing. Apabila suatu saat keinginan dan harapannya tidak terlaksana, tidak bisa ngambek terus berhenti di tengah jalan, karena hidup ini terus berjalan. Harus bisa bangkit dan segera mengambil keputusan berikutnya.

Demikian review tentang bermain monopoli bersama anak usia 7 tahun. Semoga mencerahkan ya.

Yang punya cerita lain, boleh dong berbagi di kolom komentar, tengkyuuuu...







Komentar

Postingan Populer